Asia Timur—terutama Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan—menjadi pusat penelitian dan investasi dalam teknologi Superconductivity (superkonduktivitas). Teknologi ini, yang memungkinkan listrik mengalir tanpa hambatan (resistansi nol) di bawah suhu tertentu, memiliki potensi untuk merevolusi transmisi energi, transportasi (kereta maglev), dan komputasi.
Penelitian di kawasan ini berfokus pada pengembangan material superkonduktor suhu tinggi baru yang dapat beroperasi pada suhu yang lebih tinggi, sehingga mengurangi biaya pendinginan yang sangat mahal. Tiongkok telah berinvestasi besar pada proyek superkonduktivitas untuk fusion energy (energi fusi), sementara Jepang memimpin dalam penggunaan superkonduktor untuk kereta Maglev berkecepatan ultra tinggi.
Jika terobosan komersial berhasil dicapai—khususnya pengembangan superkonduktor yang berfungsi pada suhu kamar (room-temperature)—dampaknya pada sektor energi Asia akan sangat besar. Ini akan memungkinkan transmisi daya tanpa kerugian, mengubah efisiensi jaringan listrik secara fundamental.
Penelitian Superconductivity di Asia Timur adalah perlombaan teknologi tinggi dengan implikasi global. Keberhasilan di bidang ini akan menegaskan posisi kawasan ini sebagai pemimpin dalam teknologi fisika kuantum dan solusi energi masa depan.

