Lanskap informasi di Asia sedang mengalami pergeseran seismik akibat persaingan sengit antara Media Digital dan Media Tradisional. Dominasi platform media sosial global dan portal berita digital telah mengubah cara masyarakat Asia mengonsumsi berita, meninggalkan model bisnis media tradisional (cetak dan siaran) yang berbasis iklan.
Keunggulan media digital terletak pada kecepatan penyebaran informasi, interaktivitas, dan personalisasi konten. Konsumen, terutama generasi muda, kini mengandalkan feed media sosial mereka sebagai sumber berita utama, menyebabkan penurunan sirkulasi media cetak dan rating siaran berita konvensional.
Namun, pergeseran ini juga menimbulkan tantangan serius, terutama terkait kualitas informasi. Media digital rentan terhadap penyebaran hoax, misinformasi, dan deepfake yang mengancam integritas informasi dan polarisasi publik, menuntut media tradisional untuk beradaptasi dengan peran baru sebagai verifikator fakta (fact-checker).
Bagi media tradisional, adaptasi berarti bertransformasi secara digital, menciptakan paywall atau model langganan, dan berinvestasi pada jurnalisme investigasi yang mendalam sebagai nilai jual unik. Masa depan lanskap informasi di Asia akan didominasi oleh konvergensi kedua jenis media ini.

